Coretan Teknik

Di Balik Pandemi Corona : Kisah Mahasiswa Rantau Tak Pulang Kampung

Di Balik Pandemi Corona : Kisah Mahasiswa Rantau Tak Pulang Kampung

Semarang, Momentum – Menjadi seorang mahasiswa yang berjuang di tanah rantau untuk menimba ilmu memang mampu menghasilkan kisah-kisah unik dan pengalaman hidup menarik. Semenjak munculnya kasus pandemi COVID-19 di Indonesia, kegiatan perkuliahan berubah dari tatap muka menjadi online. Undip menjadi salah satu kampus yang menerapkannya. Sebelum virus ini merebak besar dan adanya tindakan pembatasan sosial banyak mahasiswa yang sudah memilih untuk pulang ke kampung halamannya masing-masing. Meski demikian, tidak semua mahasiswa perantau pulang ke asalnya, sebagian masih memilih untuk tetap bertahan di perantauan.

Dari empat mahasiswa Fakultas Teknik Undip yang masih tinggal di Tembalang menyampaikan bahwa alasan kuat mereka tidak pulang kampung karena mengira bahwa pandemi ini tak akan berlangsung lama. Sehingga, mereka memutuskan untuk tetap tinggal di Tembalang sambil mengerjakan banyaknya tugas yang mesti diselesaikan di Semarang dan harus mendapatkan acc (accept) dosen. Alasan kuat lainnya yaitu karena ongkos tiket pesawat yang cukup mahal untuk kembali ke kampung halaman membuat mereka berpikir bahwa lebih baik uang itu digunakan untuk kebutuhan kos dan hidup lebih lama di Tembalang.

Di waktu senggang, mereka berbagi cerita menghadapi masa sulit selama COVID-19. Keadaan Tembalang yang mulai sepi ditambah dengan banyak toko dan tempat umum lainnya yang tutup membuat mereka mulai merasakan titik jenuh dan kebosanan di kos.

“Awal-awal  aku senang sendiri sih, disini (Tembalang). Tapi makin lama disini makin terasa kesepian aku. Jadi aku manfaatin aja waktu kosongku untuk nonton YouTube. Pokoknya ngabisin waktu untuk hal-hal yang sebenarnya unfaedah setelah ngerjain tugas,” kata salah satu mahasiswa dengan jahim berwarna oranye di Undip.

Selama pandemi ini, makanan tidak menjadi masalah besar meskipun warteg di Tembalang tutup. Sebab, dari Undip maupun pihak lain gencar menyalurkan bantuan berupa sembako atau menu buka puasa untuk mahasiswa yang masih tinggal di Tembalang.

“Aku kemarin juga dapat (bantuan) dari Undip dan sangat membantu,” ujar Farhatus Sakinah, mahasiswi Arsitektur asal Lamongan yang masih tinggal di Tembalang.

Selain itu, masalah lain yang dihadapi mahasiswa yang tidak pulang kampung adalah merayakan lebaran tanpa keluarga. Jarak dan kondisi yang tidak memungkinkan, membuat mahasiswa yang tidak bisa pulang kampung tidak merayakan Idul Fitri seperti biasanya. Jika biasanya mereka dapat bertatap muka secara langsung dengan keluarga saat lebaran, kini mereka hanya bertatap muka lewat telepon.

Penulis : Fransiska dan Gunawan

Click to add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Coretan Teknik

Review Novel “Hyouka”

adminMay 27, 2020

Being alive

adminMay 22, 2020

Apa Kau Baik – Baik Saja?

adminMay 12, 2020

Ziarah: Sentilan Terhadap Hidup Manusia yang Begitu-begitu Saja

adminMay 11, 2020

Impian Yang Tertunda

adminApril 30, 2020

Tak Pernah Utuh

adminApril 30, 2020