Coretan Teknik

Ziarah: Sentilan Terhadap Hidup Manusia yang Begitu-begitu Saja

Ziarah: Sentilan Terhadap Hidup Manusia yang Begitu-begitu Saja

Judul                : Ziarah

Penerbit           : Noura Books (2017), Djambatan (1969)

Penulis             : Iwan Simatupang

Halaman          : 224 Halaman

“… Ziarah tidak sekadar menyampaikan sebuah cerita. Lebih dari itu, ia juga menunjukkan bagaimana sebaiknya cerita disampaikan,” –Faisal Oddang

Ziarah punya premis yang sangat sederhanya sejatinya. Seorang pelukis terkenal di Kotapraja ditinggal mati istrinya-pelukis kehilangan kewarasannya-pelukis direkrut oleh seorang opseter untuk mengapur tembok kuburan. Premis yang sesederhana itu nyatanya bisa dengan ciamik dipreteli oleh Iwan Simatuppang menjadi salah satu novel yang sureal dan absurd namun sarat dengan idealisme-idealisme yang layak dipikirkan. Jangan kira, dengan membaca novel ini kita akan dihadapkan dengan cerita yang sangat filmis dan penuh adegan sarat konflik yang menarik. Iwan tidak menyajikan itu di Ziarah. Novel ini terbit sejak 1969 yang lalu, namun tetap digadang-gadang untuk menjadi masa depan kesusastraan Indonesia di masa yang akan datang.

Cerita dimulai ketika sebuah tawaran untuk menjadi pengapur di komplek perkuburan Kotapraja ditawarkan langsung kepada bekas pelukis terkenal. Sang pelukis itu tidak langsung menerimanya karena dia tahu di perkuburan tersebut telah ditanam istrinya yang sampai saat itu kematiannya masih menyisakan luka mendalam bagi bekas pelukis tersebut. Bagaimana bisa sang pelukis bekerja di tempat istrinya ditanam, sementara sang pelukis saban waktu terus meneriakkan kematian istrinya di sepanjang jalan. Seisi Kotapraja bahkan sudah mahfum dengan ketidakwarasan sang pelukis semenjak ditinggal istrinya mati.

“Saya ingin Saudara mengapur tembok-tembok luar pekuburan kotapraja yang saya awasi…”-halaman 22.

Tawaran itu akhirnya diterima oleh bekas pelukis dengan catatan, pekerjaannya hanya lima jam dalam sehari-entah apa pertimbangan sang pelukis. Catatan itu sejatinya sudah menjadi pengetahuan siapa saja yang pernah mempekerjakan bekas pelukis dalam pekerjaan apa pun.

Setelah diawali dengan bekas pelukis yang akhirnya sudi bekerja di pekuburan Kotapraja untuk mengapur temboknya, Iwan mempreteli satu per satu mula ceritanya. Sang opseter dikisahkan Iwan sebagai seorang mantan mahasiswa filsafat yang digadang-gadang akan menjadi pembaharu dalam ilmu filsafat namun lebih memilih banting setir menjadi seorang opseter. Opseter adalah anak dari salah seorang hartawan di Kotapraja. Kemapanan orangtuanya yang seharusnya diwariskan justru dibuang oleh opseter. Begitu pula saat sang hartawan datang menghadap Walikota Kotapraja untuk membujuk opseter agar mau kembali menempuh sarjana filsafatnya. Namun usulan itu terang-terang ditolak oleh opseter.

“Penglihatan saya sehari-hari dilapangan pekerjaan saya yang kini mengatakan kepada saya, bahwa harta dan kekayaan berhenti mempunyai arti persis pada tembok-tembok liuar dari setiap pekuburan. …. Jangalah usik-usik saya lagi pada masa yang datang. Sayalah kekayaan, sayalah kebajikan,”-halaman 81.

 Iwan dengan getir dan sangat lihai berhasil mengurai ambisi manusia untuk menjadi mapan bukanlah segalanya.

Sang pelukis bukannya datang tanpa cerita. Sang pelukis dikisahkan Iwan, adalah pelukis yang sangat berbakat yang diagung-agungkan oleh kritikus dan kolega pelukis lain seantero negara. Pelukis kawin dengan seorang perempuan yang kemudian menemaninya dalam kondisi apa pun. Iwan sekali lagi dengan lihai mengguncangkan kemapanan sebagai sesuatu yang justru sama sekali tak menarik, saat menceritakan bahwa ketenaran dan pengakuan atas sang pelukis justru menjadi sumber ketidaknyamanan dan ketidakcintaan istrinya pada pelukis. Yang terjadi kemudian, sang pelukis justru membuang semua ketenarannya itu dan memilih membangun gubuk bersama istrinya di tepi Pantai.

Setelah kesemua latar belakang masing-masing tokoh diangkat oleh Iwan, di akhir sang pelukis justru memilih berhenti mengapur tembok di pekuburan. Hal ini sama sekali tidak bisa diterima alasannya oleh opseter.

“Saya berhenti, untuk seterusnya. Maafkan saya.”-halaman 198

Ternyata sang pelukis sudah tahu alasan sang opseter justru mempekerjakannya sebagai pengapur dan bukan orang lain. Opseter rupanya ingin melihat sang pelukis menderita karena terpaksa berziarah setiap hari ke pekuburan di mana istrinya ditanam. Namun dalam kurun waktu kerjanya itu, sang pelukis sama sekali tidak menunjukkan penderitaan. Esoknya sang opseter justru mati ditemukan bunuh diri di rumah dinasnya karena kegagalannya untuk melihat sang pelukis menderita.

Di saku sang opseter diketemukan secarik kertas bertuliskan, ‘Demi kelengkapan dan kesempurnaan.’ Di sini mungkin Iwan ingin menunjukkan bahwa dengan kematian, sang opseter justru telah menemukan kelengkapan dan kesempurnaannya.

Novel Ziarah adalah novel yang sangat sureal dan absurd sehingga membacanya butuh ketekunan tersendiri. Iwan menunjukkan keberanian untuk membiarkan tokoh berdiri di ambang cerita dengan tidak mantap, tanpa nama, tanpa identitas, tanpa latar, bahkan tanpa asal-usul! Suatu keberanian yang justru belum cukup banyak dicoba oleh pelaku sastra dewasa ini. Iwan seperti ingin menunjukkan, bahwa cerita adalah hikmah, bukan sekadar alur yang dibangun di atas latar tanpa idealisme-idealisme yang bisa dipungut. Agaknya Iwan sudah sangat berhasil melakukan hal tersebut. Tidak heran jika novel ini bisa diganjar penghargaan sebagai ‘Hadiah Roman Asean Terbaik 1977’. Novel ini menjadi salah satu karya monumental Iwan bukan hanya sebagai penulis, tapi juga filsuf sekaligus psikolog yang handal mengurai cerita-Iwan menempuh pendidikan di bidang antropologi dan filsafat di Leiden dan Paris.

Pada akhirnya apa yang ditulis Iwan di akhir cerita benar adanya. Setiap langkah manusia adalah ziarah pada kemanusiaan, pada diri manusia sendiri.

“…tiap orang mati, adalah sarjana kehidupan.”-halaman 215.

Penulis : Naufal Yasir

Click to add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Coretan Teknik

More in Coretan Teknik

Mahasiswa KKN UNDIP Melatih Masyarakat Untuk Membuat Peralatan “Perang” Menghadapi New Normal

adminAugust 4, 2020

Lima Film Yang Cocok Ditonton Petinggi Undip

adminJuly 29, 2020

Mungkin Bumi Cendrawasih Lahir Ketika Tuhan Sedang Cemberut: Sebuah Esai Tentang Kemiskinan, Ketimpangan dan Kegagalan Memahami Masyarakat Papua – Bagian 2

adminJuly 19, 2020

Mungkin Bumi Cendrawasih Lahir Ketika Tuhan Sedang Cemberut: Tentang Kemiskinan, Ketimpangan dan Kegagalan Memahami Masyarakat Papua – Bagian 1

adminJuly 11, 2020

Di Balik Pandemi Corona : Kisah Mahasiswa Rantau Tak Pulang Kampung

adminMay 30, 2020

Review Novel “Hyouka”

adminMay 27, 2020