Opini

Kerugian Masyarakat Papua demi Perluasan Lahan Sawit

Kerugian Masyarakat Papua demi Perluasan Lahan Sawit
sumber: oposisicerdas.com

Semarang, Momentum — Belakangan ini muncul pemberitaan mengenai pembakaran hutan adat di tanah Papua, tepatnya Boven Digoel, untuk perluasan lahan sawit yang diduga dilakukan oleh Korindo Grup, perusahaan asal Korea Selatan. Dari seluruh tanah Papua, Korindo Grup telah memiliki lahan sawit seluas hampir 600.000 hektar, yang notabene hampir sama dengan luas Kota Seoul, ibukota Korea Selatan.

Isu ini sebenarnya sempat mencuat pada tahun 2016, dan kembali memanas pada tahun ini. Pemberitaan pada tahun 2016 tersebut disuarakan oleh Mighty Earth, sebuah organisasi perlindungan alam. Pihak Korindo Grup pada dua tahun yang berbeda ini pun masih dalam satu sikap yang sama yaitu konsisten membantah tuduhan pembakaran tersebut adalah dampak kegiatan perusahaan mereka.

Tentunya masyarakat Boven Digoel, Papua, yang paling merasakan dampak kebakaran hutan adat mereka ini. Hutan telah menjadi bagian hidup mereka sejak zaman nenek moyangnya. Beberapa suku bahkan tinggal di dalam hutan Papua, misalnya Suku Mandobo, kini perlahan kehilangan tempat berlindungnya. Kompensasi yang masyarakat terima atas kedukaan mereka ini pun dianggap tak pantas, yaitu hanya Rp 100.000,00 per hektarnya. Bahkan masyarakat Boven Digoel juga harus rela kehilangan sumber pangan yang banyak hidup di hutan adat tersebut yang biasanya bisa mereka dapatkan secara cuma-cuma, yaitu pohon sagu.

Lantas kerugian apa yang akan dirasakan oleh masyarakat luas akibat kegiatan pengalihfungsian hutan menjadi lahan sawit ini?. Dampak pertama tentunya adalah masalah kesehatan seperti ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas) akibat asap yang ditimbulkan dari proses pembakaran hutan. Dampak yang paling besar adalah dunia akan kehilangan banyak hutan tropis yang menjadi sumber oksigen dan tempat tinggal bagi banyak satwa.

Dalam kasus ini, pemerintah diharapkan mampu menjaga hutan Papua dan Boven Digoel serta menjadikannya prioritas konservasi untuk kesejahteraan masyarakat Papua itu sendiri. Kalaupun akan tetap menjadikan hutan sebagai zona investasi dengan alih fungsi lahan, alangkah bijaknya jika negara kita sendiri yang mengelolanya, dengan sumber daya manusia Indonesia yang tak kalah hebatnya. Sehingga hasilnya akan dapat kita rasakan sendiri, bukan menghasilkan kemakmuran bagi negara lain namun meninggalkan kesengsaraan di negeri sendiri.

Penulis : Tirta dan Gunawan

Click to add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opini

More in Opini

Universitas Diponegoro Menggagas Hybrid Learning Semester Genap 2020/2021

adminApril 4, 2021

Kondisi Kebebasan Pers Pada Lembaga Pers Mahasiswa

adminNovember 2, 2020

Posko Pengaduan UU Cipta Kerja, Cara Undip Menyerap Aspirasi Mahasiswa

adminNovember 2, 2020

Dilema Pilkada 2020 di Tengah Pandemi

adminOctober 10, 2020

Polemik Kata “Anjay”

adminSeptember 21, 2020

Mahasiswa Baru: Keresahan Kaderisasi, Teman, dan Dosen Online

adminAugust 17, 2020