Isu

Penyerangan Terhadap Nakes di Papua, Pemerintah Harus Segera Mengusut Tuntas

Penyerangan Terhadap Nakes di Papua, Pemerintah Harus Segera Mengusut Tuntas
Sumber: kompas.com/

Semarang, Momentum – Senin (13/09/2021) terjadi penyerangan, pembakaran, dan penembakan yang menyebabkan meninggalnya Tenaga Kesehatan (Nakes), Gabriella Meilani. Gabriella diduga meninggal karena jatuh saat menyelamatkan diri dari serangan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Distrik Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Papua mengecam dan melaporkan terkait tragedi tersebut serta meminta adanya peningkatan keamanan untuk para tenaga kesehatan yang saat ini berada di wilayah Papua.

Menurut IDI Wilayah Papua, meski dalam situasi konflik sekali pun, nakes seharusnya tidak menjadi target kekerasan dan harus dilindungi berdasarkan Resolusi PBB, UU HAM, dan UU Penanggulangan Bencana.

“Dimana pun, namanya pengabdian khususnya tenaga kesehatan itu dilindungi, kita belum selesai dengan pandemi, sudah banyak Nakes yang gugur karena pandemi, dalam konflik tidak boleh menyerang Nakes, perlindungan harus maksimal, tidak mungkin Nakes masuk ke daerah tertentu kalau tidak ada jaminan,” tegas Dr. Donald Aronggear, SpB(K) selaku ketua IDI Papua.

Selain Gabriella, terdapat delapan Nakes lain yang turut menjadi korban terkait tragedi penyerangan terhadap Nakes di Papua, yaitu Dr. Restu Pamanggi, Marselinus Ola Attanila, Manuel Abi, Martinus Deni Satya, Lukas Luji, Patra, Siti Khodijah, Katrianti Tandila, dan Christina Sampetonapa. Diantara para korban lainnya, kondisi Dr. Restu Pamanggi mengalami luka cukup parah yang didiagnosis mengalami fraktur dibagian tangan dan sudah berhasil di operasi. Sementara korban lainnya sudah berhasil dievakuasi ke Jayapura.

Sumber: prohaba.tribunnews.com/

IDI Papua, Amnesty International Indonesia (AII), Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), serta instansi lainnya meminta agar pemerintah segera mengusut tuntas kasus penyerangan kepada Nakes di Papua. “Kami meminta kepada seluruh pihak untuk memberikan privasi bagi para tenaga kesehatan yang menjadi korban penyerangan tersebut karena masih mengalami trauma,” ujar Dr. Donald dalam keterangan tertulis yang diterima detik.com, Minggu (19/9/2021).

IDI Papua juga mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya atas bantuan yang telah dikerahkan oleh TNI dan Polri dalam mengevakuasi dan menyediakan fasilitas untuk para korban. “Kami berharap agar segera ada jawaban dari pemerintah provinsi dan pusat untuk penanganan masalah ini, supaya aktifitas melayani masyarakat terutama di wilayah pedalaman bisa segera dilanjutkan, dan masyarakat yang membutuhkan penanganan kesehatan segera bisa ditangani,” tutur Dr. Donald.

Penulis : Firman dan Hilmy

Click to add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Isu

More in Isu

Di Balik Diskusi Kolaborasi “Undip Cantik”

adminOctober 17, 2021

Road to Kuliah Tatap Muka

adminOctober 6, 2021

Tindakan Undip dalam Konversi Nilai MBKM

adminSeptember 21, 2021

Laboratorium Terintegrasi FT Undip Sebagai Penunjang Kolaborasi Penelitian Antar Keilmuan Teknik

adminSeptember 14, 2021

Nadiem: Perguruan Tinggi di Wilayah PPKM Level 1-3 Boleh Kuliah Tatap Muka Terbatas, Bagaimana Tanggapan Fakultas Teknik?

adminSeptember 10, 2021

Bincang UKT: Mengenal Lebih Dekat Sistem Keringanan UKT Undip

adminAugust 25, 2021